Published On: Kam, Mar 14th, 2013

Jejak Indonesia dalam Karya Pram

391 Views
Judul Buku: Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia Pengarang : Prof. Koh Yung Hun Penerbit    :  PT Gramedia Pustaka Utama Kota Terbit: Jakarta Tahun Terbit: Cetakan Pertama Desember 2011 Tebal Buku: 407 halaman

Judul Buku: Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia
Pengarang : Prof. Koh Yung Hun
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: Cetakan Pertama Desember 2011
Tebal Buku: 407 halaman

Oleh Yestik Arum

Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan yang berasal dari Blora. Anak dari M. Toer dan Saidah. Kedua orangtua Pram memiliki latar budaya yang berbeda. Sang Ibu menganut Islam pesisir, sedang sang ayah yang menganut Islam pedalaman. Namun, ada satu sikap yang sama dalam keduanya: jiwa patriotik nasionalis kiri. Hal inilah yang mengikat kedua orangtuanya. Sehingga sejak kecil Pram—sapaan masyhur Pramoedya—sudah dididik untuk menjadi manusia bebas, tidak malu bekerja dan anti penjajahan.

Prof. Koh Young Hun melalui buku ini mencoba menganalisis pemikiran Pram melalui novel maupun cerpen yang dihasilkannya. Banyak kalangan kritikus dan pengkaji sastra dalam maupun luar negeri memberikan apresiasi terhadap karya-karyanya. Akan tetapi hal ini berbeda dengan keadaan yang terjadi di Indonesia, karya-karya Pram pernah dilarang dan disebarluaskan dengan alasan bahwa karya-karyanya mengandung unsur-unsur subversif yang bertentangan dengan ideologi negara.

Akan tetapi penulis mencoba mengajak pembaca untuk berdialektika dan mengkaji karya-karya Pram lebih dalam lagi. Hal ini karena sikap dan pemikiran Pram yang tersirat dalam karya-karyanya memiliki keistimewaan jika dibandingkan dengan sastrawan-sastrawan Indonesia lainnya.

Sebagian besar karya Pram berhubungan dengan kehidupannya sendiri. Hal ini sejalan dengan cita-cita Pram yang menentang ketidakadilan dan berusaha membebaskan rakyat dari penjajahan. Pemikiran Pram lebih mengedepankan unsur-unsur kemanusiaan atau sisi humanitas. Hal ini dapat dilihat melalui karya-karyanya seperti tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Arok Dedes dan Gadis Pantai. Dalam novel Perburuan yang dirampungkan pada bulan Mei 1949 ketika Pramoedya dipenjara.

Pram memaparkan suatu usaha untuk memahami manusia dalam kehidupan. Tokoh-tokoh dalam Perburuan digambarkan sebagai manusia yang mencari kebebasan dalam keadaan belenggu kekuasaan penjajah. Tokoh utama, Hardo, digambarkan sebagai anggota prajurit Peta yang didorong oleh semangat patriotisme untuk memberontak Jepang. Akibatnya, ayah Hardo dipecat dari jabatan Wedana Karangjati oleh penguasa Jepang.

Jelas sekali dalam novel ini Pram selalu menggunakan aspek kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat dari tokoh Hardo yang tidak dendam terhadap Karmin, kawan seperjuangan Hardo yang telah menghianatinya. “Dan engkau, Karmin, engkau mesti kembali padaku, Tidak aku takkan membalas dendam oleh penghianatan itu” (hlm. 43). Ketika orang-orang hendak membunuh Karmin, Hardo menghalanginya agar tetap selamat. Hal tersebut membuktikan bahwa Pram menunjukkan sikap kemanusiaannya dan menaruh harapan pada siapapun, meski orang tersebut berkhianat.

Tonggak baru

Tetralogi Bumi Manusia sebenarnya novel sejarah yang memaparkan pemikiran Pram berdasarkan fakta-fakta sejarah negara dan bangsanya pada masa lampau.

Menurut penulis buku ini, dalam menganalisis sebuah novel sejarah, kajiannya harus lebih bertumpu pada maksud atau pemikiran pengarangnya. Hal ini dikarenakan seorang penulis novel sejarah tidaklah bermaksud mengungkapkan sifat masa silam saja, akan tetapi mengungkapkan pemikirannya sendiri dan membuat pembaca mengalami serta menyadari hakikat sejarah melalui proses penciptaan karya yang mengandung unsur-unsur estetik.

Dalam menganalisis tetralogi Bumi Manusia dibutuhkan kejernihan dan adil. Apa yang hendak disampaikan Pram dalam karya itu lebih penting daripada penjelasan fakta sejarah yang terdapat di dalamnya. Dalam tetralogi tersebut Pram memaparkan pandangan mengenai citra pemberontakan atas kekuasaan kolonial Belanda, warisan budaya bangsa, gerakan kebangkitan bangsa di Tanah Air, dan peranan wanita dalam peralihan zaman.

Tetralogi Bumi Manusia memiliki perbedaan dengan karya Pram terdahulu. Dalam karya ini Pram mencoba mengolah masalah manusia sebagai warga dunia dan masalah warisan budaya yang berkaitan dengan masa depan bangsa. Menurut Pram, “Bumi Manusia adalah panggung di mana manusia memainkan peranannya”  (hlm. 90). Pram menghadirkan Tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh. Tokoh Minke digambarkan sebagai perintis pergerakan nasional yang memihak rakyat pribumi. Minke ditokohkan secara kontradiktif, dalam arti latar belakangnya sebagai keturunan Jawa tradisional yang bertentangan dengan latar belakang pendidikan Eropa yang liberal. Akan tetapi melalui hadirnya Nyai Ontosoroh akhirnya membuka mata Minke untuk bersikap lebih terbuka.

Dalam tetralogi Bumi Manusia juga digambarkan citra pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Samin, yang dikenal dengan ajaran Saminisme. Hal ini memiliki keunikan karena orang-orang Samin menolak penjajahan dengan cara yang jujur, tulus, sabar, rajin dan berani, yang semua nilai-nilai etika itu dipentingkan Pram.

Buku ini layak dibaca karena menganalisis karya-karya Pram yang kaya akan nilai-nilai yang mengagungkan masa lampau. Dapat dikatakan, novel Pram mencairkan kebekuan sastra Indonesia yang akhir-akhir ini hanya berputar-putar pada kegelisahan dan kekosongan jiwa perseorangan yang mengalami alienasi di dalam masyarakat. Berbeda dengan Pram, sebagai sastrawan ia berusaha menyoroti sisi-sisi kemanusiaan dalam memperlihatkan kecintaannya terhadap Indonesia.


Fatal error: Uncaught Exception: 190: Error validating application. Application has been deleted. thrown in /home/amana357/public_html/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273